Ada Warung di atas Gunung!

Setelah baca judulnya, kamu pasti bingung kok bisa ya ada warung di atas gunung. Dan gak hanya satu atau dua warung aja TAPI banyak juga warungnya. Gimana ya caranya buat bawa belanjaannya? Nah buat kamu yang penasaran, aku akan ceritain gimana pengalaman aku naik gunung yang banyak warungnya gini hahaha itu ada di gunung Papandayan, Garut.

Waktu itu aku bareng tutjuh orang teman SMA aku (Apih, Icha, Damasha, Teta, Rizki, Tio, Syaban) naik ke gunung Papandayan tahun 2015 (3 tahun lalu hehe) tepatnya tanggal 5-7 Juni. Packing di rumah aku dari siang pas tanggal 5 nya, sekitar habis maghrib/isya (lupa) berangkat ke terminal Kp.Rambutan naik angkot biayanya per orang sekitar 7 ribuan waktu itu dan penumpangnya cuma kita berdelapan aja hehehe. Sampe di terminal langsung cari bus antarkota yang ke arah Garut. Harganya itu 55 ribu per orang, tapi karena kita anak sekolahan jadi nego sampe halus sama sopirnya (kalau sama keneknya gak boleh nawar) biar dimurahin, akhirnya kita dapet harga 50 ribu per orang.

Sampe di terminal Garung sekitar subuh esok harinya. Disana kita sholat, beli sarapan dan beli logistik yang belum dibeli pas di Jakarta. Di terminal nanti kamu  akan ditawarin sama banyak calo angkot gitu tujuan gunung Papandayan sama gunung Cikuray. Setelah selesai lanjut lagi naik angkot untuk ke pintu daerah Papandayan (lupa juga nama daerahnya, hehe) Untuk harga angkotnya sekitar 10 ribuan. Dan kita masih harus naik satu angkutan lagi untuk ke basecamp gunung Papandayan yaitu naik mobil pick up. Sebenernya kamu bisa aja jalan kaki untuk ke basecamp (kalo lagi pendidikan) hahaha karena itu jauh banget dah haha tapi waktu itu ada aja gitu yang jalan kaki. Sedangkan harga mobil ini sendiri harganya relatif, kalau kamu ada barengannya dari rombongan lain, biasanya harganya lebih murah karna bisa banyak sekali angkut. Karena waktu itu kita kesiangan gitu itungannya jadi satu mobil pick up ini cuma kita berdelapan aja. Nah ini foto kita sebelum naik pick up dan pas di atasnya.

Setelah itu kamu akan sampai di camp David. Kalau dulu, Registrasi tuh pos aja pas lagi naik mobil, satu orang perwakilan turun buat kasih tau rombongannya berapa orang dan akan turun kapan, biayanya masih 5-10 ribu per orang. Kalau sekarang gak tau sistemnya kayak gimana, denger-denger harganya naik jado 50 ribu per orang dan dapet sertifikat juga hehe.

Advertisements

Keberadaan Perpustakaan di Era Digital

Download artikel lengkap dalam bentuk PDF di sini.

99

AGNES NADIA ROHMAN

anadiagnes@gmail.com

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

A. Pendahuluan

Kemajuan yang pesat dalam teknologi informasi telah merevolusi peran perpustakaan. Akibatnya, perpustakaan menghadapi tantangan baru, pesaing, tuntutan, serta harapan. Perpustakaan mendesain ulang layanan dan produk informasi untuk menambah nilai layanan mereka dan untuk memenuhi perubahan kebutuhan informasi dari komunitas pengguna. Perpustakaan tradisional masih menangani sebagian besar materi cetak yang mahal dan besar. Pencari informasi tidak lagi puas hanya dengan materi cetak. Mereka ingin melengkapi informasi tercetak dengan sumber daya elektronik yang lebih dinamis.

B. Tantangan dan Peluang Perpustakaan

Selain bersaing dengan lembaga-lembaga penyedia informasi yang sejenis, lautan informasi yang terus sberkembang secara dinamis dan tak terbatas menjadi ancaman bagi keberadaan perpustakaan saat ini. Hal tersebut membuat tantangan perpustakaan menjadi semakin kompleks.

Namun era digital juga membuktikan bahwa pemustaka tidak selalu harus datang ke perpustakaan, melainkan perpustakaanlah yang mendatangi pemustaka, sehingga pemustaka bisa mengakses dan memanfaatkan koleksi perpustakaan di manapun dan kapanpun. Hal ini dapat menciptakan peluang untuk menarik kembali minat pemustaka generasi digital untuk tetap menggunakan layanan perpustakaan sebagai tempat mencari informasi yang tepercaya.

Penerapan perpustakaan yang cocok pada saat ini khususnya di negara Indonesia yaitu dengan adanya perpustakaan hibrida. Perpustakaan hibrida merupakan pelayanan dan pengelolaan buku bacaan yang menggabungkan teknologi informasi dan administrasi konvensional. Dimana perpustakaan tetap dapat digunakan oleh semua orang baik yang sudah atau belum memiliki keterampilan dalam penggunaaan sarana digital.

Dalam perkembangannya, sudah banyak perpustakaan yang menggunakan software atau aplikasi perpustakaan baik ­open source maupun close source. Diantaranya dengan penerapan teknologi SLiMS dan OPAC. SLiMS (Senayan Library Management System) adalah Open Source Software (OSS) berbasis web yang dapat memenuhi kebutuhan otomasi perpustakaan (library automation) skala kecil hingga skala besar.[1] SLiMS terus mengalami perkembangan dengan meningkatkan versi – versinya yang semakin kompleks sehingga dapat memenuhi kebutuhan perpustakaan. Begitupun dengan keberadaan OPAC (Online Public Acces Catalogue) dalam perpustakaan. Menurut Hafiah (2011:168)OPAC adalah katalog terpasang, yaitu suatu database dari record-record katalog yang dapat diakses oleh umum atau pencari informasi. OPAC dapat mengetahui koleksi tertentu di perpustakaan, sehingga pemustaka dengan cepat, tepat dan akurat dalam mencari koleksi yang dibutuhkan. Apabila sistem katalog dihubungkan dengan sistem sirkulasi, maka pengguna dapat mengetahui bahan pustaka yang dicari tersedia di perpustakaan atau sedang dipinjam.

C. Peran Pustakawan di Era Digital

Berbicara mengenai perpustakaan tidak terlepas dari peran pustakawan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan serta pelayanan perpustakaan sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan yaitu Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan

DAFTAR PUSTAKA

Hafiah. (2011). Ensiklopedia Perpustakaan. Padang: Hayfa Press Padang.

Hapsari, Dian. (2015). Tantangan dan Kesiapan Pustakawan di Era Digital. Jurnal Pustaka Ilmiah. Vol 1(1): 55-60.

Hidayat, Parhan. (2015). Bersaing Dengan Google: Bagaimana Perpustakaan Tetap Unggul dalam Pencarian Informasi. Jurnal Al-Maktabah. Vol 14: 38-45.

Panduan SLiMS. Tersedia pada situs http://www.slims.web.id/download/docs/s7-cendana-doc-id-v.1.pdf. Diakses pada tanggal 27 Mei 2018

Ranganathan, S. R.. (1988). The Five Laws of Library Science (Sarada Ranganathan Endowment for Library Sci. Tersedia dalam situs http://journal.library.uns.ac.id/index.php/jpi/article/view/15/16

Rao, K. Nageswara and Babu. KH. (2001). Role of Librarian in Internet and World Wide Web Environment. Informing Science. Vol 4(1): 30-32.

Shiri, A. (2003). Digital library research: Current developments and trends. Library Review 52 (5): 198 – 202. Tersedia dalam situs http://www.webpages.uidaho.edu/~mbolin/trivedi-diglib.htm

Undang-Undang Republik Indonesia No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan.

http://www.download.portalgaruda.org/article.php?article=101441&val=1516 Diakses pada tanggal 27 Mei 2018.

https://www.media.neliti.com/media/publications/77415-ID-perkembangan-teknologi-komunikasi-dan-in.pdf Diakses pada tanggal 29 Mei 2018

 

Asah Bahasa di Perpustakaan Freedom

Selamat malam. Aku nulis ini malam-malam soalnya, hehe.

LRM_EXPORT_20180421_233149.jpg

Aku mau cerita, mudah-mudahan kamu tertarik dan harus tertarik. Beberapa waktu lalu aku observasi untuk memenuhi tugas kuliah. Bingung mau observasi ke perpustakaan apa akhirnya cari-cari di internet ‘perpustakaan keren di Jakarta’ lalu keluar banyak deh pilihannya. Tapi, ada yg cukup menarik perhatian yaitu perpustakaannya bagus banget interiornya, selain rak-rak buku yang berjajar, disini juga ada semacam tempat duduk untuk baca yang santai-able hehe. Perpustakaan Freedom, namanya.

Akhirnya, waktu datang kesana “wah! bener-bener nyaman” dan instagram-able juga. Perpustakaan ini berada dibawah naungan Freedon Institute, makanya namanya itu Perpustakaan Freedom. Koleksi buku disini lebih kurang ada 15.000 buku, dengan masing-masing buku hanya ada maksimal 3 eksemplar. Jadi bisa dipastikan koleksi disini benar-benar beragam sekali judulnya. Lalu, kenapa ya aku kasih judul post ini ‘Asah Bahasa di Perpustakaan Feeedom’? Hmm jawabannya karena sekitar 80% buku yang ada disini berbahasa Inggris alias buku import.

Nah, untuk kamu yang tertarik dan hobi untuk baca buku berbahasa asing, bisa banget untuk sering-sering datang ke Perpustakaan Freedom. Banyak buku-buku sejarah, pengetahuan, novel, sastra, dan kategori-kategori buku lainnya yang semuanya berbahasa Inggris.

Letaknya ada lantai 1 Wisma Bakrie, Jl. H. R. Rasuna Said No.Kav, B-1, RT.11/RW.2, Karet Kuningan, Menteng, South Jakarta City, Jakarta 12920. Dan jam operasionalnya di hari Senin-Jumat pukul 9:00 pagi sampai pukul 4:30 sore.

Saat datang kesini, kamu harus membuat kartu anggota Perpustakaan Freedom. Biayanya? gratis! Kamu hanya perlu mengisi formulis juga memperlihatkan kartu identitas seperti KTP, lalu gak lama kartu anggota kamu sudah jadi. Cepet banget gak perlu nunggu lama suapaya jadi anggota resmi gitu ceritanya.

Buku-buku disini 80% adalah koleksi pribadi dari Bapak Rizal Mallarangeng selaku pemilik/direktur perpustakaan. Buku ini didapatkan sejak beliau masih kuliah di luar negeri, juga hampisr semua dibeli dengan kocek pribadi. Jadi gak diragukan lagi kalau buku-buku disini adalah buku-buku bagus, aku yakin. Kecuali kalau kamu gak ngerti bahasa Inggris, nanti malah jadi pusing sendiri. Aku juga, hehe. Karena hal-hal tersebut, koleksi disini tidak bisa dipinjam melainkan hanya bisa dibaca di tempat.

Singkatnya, perpustakaan ini udah dari tahun 2001 dengan koleksi awal sekitar 4000 buku dan udah beberapa kali juga pindah tempat. Dan pernah vakum selama setahun karena belum menemukan tempat yang cocok.

Pada dasarnya, aku ajak kamu untuk berkunjung kesini. Sekali aja juga gapapa, kalau ketagihan malah lebih bagus, hehe. Dan kalau kamu berkunjung kesini, kamu akan dapat kesempatan untuk membawa pulang 1 buah buku terbitan dari Freedom Institute ataupun koleksi yang memang ditujukan untuk pengunjung, kalau bahasa kerennya ‘untuk pemustaka’ hehehe.

Di bawah ini beberapa dokumentasi Perpustakaan Freedom oleh kawanku, Reva.

Akhir kata, terimakasih telah membaca tulisanku ini. Semoga harimu menyenangkan:)